Undangan yang sesuai dengan adat bukan hanya formalitas, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai budaya leluhur. Menurut situs Bridestory.com (2024), tren undangan modern kini mulai menggabungkan unsur tradisional agar tetap relevan dengan zaman tanpa kehilangan makna budaya.
Artikel ini akan membahas panduan lengkap membuat undangan yang sesuai dengan adat pernikahan, mulai dari pemilihan konsep, warna, bahasa, hingga detail desain yang selaras dengan budaya.
1. Pahami Adat Pernikahan yang Dianut
Langkah pertama adalah memahami adat pernikahan yang akan dijalankan. Setiap daerah memiliki ciri khas berbeda, baik dari segi simbol, warna, maupun bahasa.
-
Adat Jawa: Biasanya menggunakan warna-warna lembut seperti coklat, emas, atau krem, dengan motif batik parang atau kawung. Bahasa yang digunakan pun sering mencakup bahasa Jawa halus.
-
Adat Minang: Didominasi warna merah dan emas yang melambangkan kemegahan dan kebahagiaan.
-
Adat Sunda: Lebih lembut dan natural dengan warna hijau dan putih, melambangkan kesucian dan ketenangan.
-
Adat Bali: Penuh ornamen bunga dan simbol religius seperti omkara, dengan warna cerah dan penuh makna spiritual.
Memahami makna simbol-simbol tersebut membantu kamu merancang undangan yang bukan hanya indah tetapi juga autentik dan menghormati adat.
Menurut Kemdikbud.go.id, simbol dalam adat pernikahan merupakan bentuk komunikasi budaya yang mencerminkan nilai, kepercayaan, dan filosofi hidup masyarakat setempat. Dengan memahami hal ini, kamu bisa menyesuaikan desain undangan secara tepat.
2. Tentukan Konsep Desain yang Menggabungkan Tradisi dan Modernitas
Setelah memahami adat, langkah berikutnya adalah menentukan konsep desain. Saat ini, banyak pasangan memilih desain modern dengan sentuhan adat, agar tetap elegan namun tidak terkesan kuno.
Beberapa ide yang bisa diterapkan:
-
Desain Minimalis Batik: Gunakan pola batik khas daerah sebagai ornamen di pinggiran undangan.
-
Frame Emas atau Ornamen Ukiran: Terinspirasi dari motif tradisional seperti ukiran Jepara atau songket Palembang.
-
Ilustrasi Karakter Adat: Tambahkan gambar pengantin dengan busana adat di bagian depan undangan.
Misalnya, untuk adat Jawa, kamu bisa menggunakan aksen batik parang pada latar belakang, sementara untuk adat Bali, gunakan motif bunga kamboja yang khas.
Menurut Popbela.com (2024), tren desain undangan saat ini cenderung memadukan unsur lokal dengan gaya modern karena dianggap lebih personal dan bermakna.
3. Pilih Warna yang Mewakili Nilai Budaya
Warna memiliki makna mendalam dalam setiap adat. Karena itu, pemilihan warna tidak boleh asal.
Berikut beberapa contoh kombinasi warna yang bisa kamu pertimbangkan:
| Adat | Warna Utama | Makna |
|---|---|---|
| Jawa | Emas, coklat, krem | Kehangatan dan kebijaksanaan |
| Sunda | Putih, hijau | Kesucian dan ketenangan |
| Minang | Merah dan emas | Kekuatan dan kemakmuran |
| Bali | Kuning, oranye, putih | Kebahagiaan dan spiritualitas |
Sumber: Kompas Lifestyle (2023)
Selain estetika, warna juga membantu membangun identitas budaya pada undangan. Warna yang tepat akan langsung menciptakan kesan adat yang kuat, bahkan sebelum tamu membaca isi undangan.
4. Gunakan Bahasa yang Sopan dan Sesuai Adat
Isi undangan tidak hanya menampilkan waktu dan tempat, tetapi juga mencerminkan etika dan tata krama budaya.
Untuk undangan adat Jawa, misalnya, penggunaan bahasa krama inggil bisa menambah kesan hormat. Sedangkan untuk adat Minang atau Sunda, bisa menggunakan salam pembuka khas daerah seperti:
“Assalamu’alaikum dan salam hormat dari kami yang berbahagia dalam naungan adat Minangkabau.”
Namun, tetap sertakan versi bahasa Indonesia agar semua tamu memahami isi undangan dengan mudah.
Menurut Universitas Indonesia Press (2022), penggunaan bahasa daerah dalam acara adat memiliki fungsi simbolik untuk mempertahankan nilai-nilai budaya di tengah arus modernisasi.
5. Sertakan Simbol dan Motif Adat
Setiap daerah memiliki simbol budaya yang bisa diterapkan pada undangan, misalnya:
-
Motif Batik: Parang, kawung, atau mega mendung.
-
Motif Songket: Khas Palembang atau Minangkabau.
-
Motif Ukiran: Khas Bali atau Jepara.
Simbol ini tidak hanya mempercantik undangan, tetapi juga menjadi identitas visual adat yang kuat.
Sebagai contoh, undangan dengan motif batik kawung akan langsung diasosiasikan dengan budaya Jawa, sementara motif songket akan memberi kesan kemewahan khas Sumatera.
6. Tentukan Format dan Jenis Undangan
Undangan adat tidak selalu harus berbentuk kertas klasik. Kini kamu bisa memilih:
-
Undangan Cetak Eksklusif: Dengan bahan kertas tebal seperti art carton atau linen.
-
Undangan Digital: Desain adat bisa diaplikasikan dalam bentuk e-invitation atau video dengan animasi motif adat.
Meski format digital semakin populer, banyak pasangan tetap memilih versi cetak karena lebih berkesan dan bisa disimpan sebagai kenang-kenangan.
Menurut survei Bridestory Wedding Trends 2024, 68% calon pengantin masih menggunakan undangan cetak untuk acara adat karena dianggap lebih sopan secara budaya.
7. Tambahkan Unsur Doa dan Harapan dalam Bahasa Adat
Salah satu elemen penting dalam undangan adat adalah ucapan doa dan restu.
Kamu bisa menambahkan kutipan tradisional atau pepatah daerah seperti:
“Mugi rahayu, langgeng, lan pinayungan rahmating Gusti” (Bahasa Jawa, berarti: semoga bahagia dan diberkahi Tuhan).
Kalimat seperti ini menambah kedalaman makna dan menunjukkan rasa hormat terhadap adat.
Selain itu, bagian doa ini juga bisa menjadi pengingat bahwa pernikahan bukan hanya soal pesta, tetapi juga perjalanan spiritual dan budaya.
8. Bekerja Sama dengan Desainer yang Memahami Budaya Lokal
Tidak semua desainer memahami detail adat, karena itu penting memilih percetakan atau desainer yang berpengalaman dalam membuat undangan adat.
Kamu bisa mencari referensi melalui situs seperti Weddingku.com atau Bridestory.com, yang memiliki banyak contoh karya undangan adat dari berbagai daerah.
Komunikasikan dengan jelas konsep yang kamu inginkan — mulai dari warna, motif, hingga teks. Dengan begitu, hasil akhirnya akan selaras dengan nilai budaya dan tetap tampil elegan.
9. Perhatikan Tata Letak dan Kerapian
Desain yang penuh motif adat kadang bisa membuat undangan terlihat “ramai”. Karena itu, pastikan tata letaknya seimbang antara elemen tradisional dan ruang kosong (white space) agar tetap mudah dibaca.
Gunakan font sederhana namun berkarakter, seperti kombinasi huruf klasik untuk nama pengantin dan font sans-serif untuk detail acara.
Menurut Canva Design Trends 2024, keseimbangan visual adalah kunci utama agar undangan tetap menarik tanpa kehilangan nilai adat.
10. Cetak Sampel Sebelum Produksi Massal
Sebelum mencetak dalam jumlah besar, mintalah sampel undangan terlebih dahulu. Ini penting agar kamu bisa memeriksa:
-
Ketepatan warna dan ukuran.
-
Kualitas kertas dan tinta.
-
Kesesuaian bahasa dan ejaan.
Langkah ini membantu menghindari kesalahan yang bisa berdampak pada kesan profesional acara.
Membuat undangan yang sesuai dengan adat pernikahan bukan hanya tentang tampilan, tetapi juga penghargaan terhadap warisan budaya. Dengan memahami simbol, warna, bahasa, dan nilai tradisional, kamu bisa menciptakan undangan yang tidak hanya cantik tetapi juga penuh makna.
Intership SMKN 1 Bungo | Putri Ardiana Safara
