1. Pilih Ukuran Cetakan yang Tepat
Ukuran cetakan sangat berpengaruh pada biaya. Misalnya, mencetak brosur ukuran A4 tentu lebih mahal dibandingkan A5, padahal isinya bisa disesuaikan dengan desain yang efisien.
Situs 99designs (2022) menjelaskan bahwa ukuran cetakan yang lebih kecil bisa menghemat kertas sekaligus biaya pengiriman. Jadi, pastikan Anda memilih ukuran yang sesuai dengan kebutuhan, bukan sekadar lebih besar agar terlihat menarik.
2. Gunakan Desain yang Efisien
Desain yang terlalu banyak warna atau elemen grafis bisa membuat biaya cetak meningkat. Hal ini karena semakin banyak warna, semakin kompleks proses cetaknya.
Anda bisa menggunakan desain minimalis dengan warna solid dan tipografi yang jelas. Selain lebih hemat tinta, desain sederhana juga terlihat profesional dan mudah dibaca. Menurut Canva (2023), desain clean cenderung lebih efektif dalam menarik perhatian audiens dibandingkan desain yang terlalu ramai.
3. Pilih Jenis Kertas yang Sesuai
Kertas premium seperti art carton 310 gsm memang terlihat elegan, tetapi tidak selalu diperlukan. Untuk flyer promosi, cukup gunakan art paper 150 gsm yang lebih ekonomis namun tetap berkualitas.
Berdasarkan rekomendasi dari Jakarta Printing (2022), pemilihan kertas sesuai fungsi bisa menghemat hingga 20% biaya cetak. Jadi, tentukan dulu tujuan cetakan sebelum memilih bahan kertas.
4. Cetak dalam Jumlah Banyak (Bulk Printing)
Mencetak dalam jumlah kecil berulang kali justru lebih mahal dibandingkan mencetak sekaligus dalam jumlah banyak. Hal ini karena biaya setup mesin cetak dibebankan di setiap pesanan.
Sebagai contoh, jika Anda mencetak brosur 100 lembar lalu pesan lagi 100 lembar seminggu kemudian, biayanya akan lebih tinggi dibanding langsung mencetak 200 lembar sekaligus. Menurut Printful Blog (2023), bulk printing bisa menekan biaya hingga 40% per unit cetakan.
5. Manfaatkan Teknologi Digital Printing untuk Jumlah Kecil
Kalau kebutuhan cetakan Anda hanya sedikit, misalnya 50–100 lembar, digital printing lebih hemat dibandingkan offset printing. Mesin digital tidak membutuhkan plat cetak, sehingga biaya produksi lebih rendah.
Seperti dijelaskan di Vistaprint (2023), digital printing sangat cocok untuk cetakan cepat dan jumlah terbatas, sementara offset lebih ekonomis jika jumlahnya ribuan. Jadi, pilih metode cetak sesuai kebutuhan.
6. Gunakan Warna CMYK dengan Bijak
Percetakan umumnya menggunakan sistem warna CMYK (Cyan, Magenta, Yellow, Black). Jika desain Anda terlalu banyak menggunakan warna khusus (spot color atau Pantone), biayanya bisa lebih tinggi.
Dengan tetap menggunakan kombinasi CMYK standar, Anda bisa menghemat tinta sekaligus mempercepat proses cetak. Adobe Blog (2022) juga menekankan pentingnya menyesuaikan warna desain dengan mode CMYK agar hasil cetak sesuai harapan dan lebih murah.
7. Cetak di Percetakan yang Tepat
Setiap percetakan punya spesialisasi berbeda. Ada yang lebih murah untuk cetakan offset, ada yang lebih unggul di digital printing. Lakukan riset harga dari beberapa percetakan sebelum memutuskan.
Menurut pengalaman banyak UKM yang dibagikan di forum Kaskus Printing Community, mencari percetakan yang tepat bisa menghemat biaya hingga 25%. Jangan ragu bertanya tentang paket promosi atau diskon cetak dalam jumlah tertentu.
8. Gunakan Template Siap Pakai
Jika Anda ingin lebih hemat biaya desain, gunakan template yang sudah tersedia di platform seperti Canva atau Envato. Template ini bisa dimodifikasi sesuai brand Anda, tanpa harus membayar desainer dari awal.
Hal ini bukan hanya menghemat waktu, tetapi juga biaya tambahan untuk jasa desain. HubSpot (2023) menyebutkan bahwa penggunaan template siap pakai bisa memangkas hingga 50% anggaran desain.
9. Kurangi Revisi dengan Proofing Digital
Salah satu faktor yang bikin biaya membengkak adalah revisi berulang. Untuk mencegah hal ini, mintalah proofing digital sebelum cetak massal. Proofing adalah contoh hasil cetak dalam skala kecil atau file digital untuk dicek dulu sebelum produksi banyak.
Menurut Printweek (2022), proofing digital membantu mengurangi risiko kesalahan desain dan warna sehingga biaya cetak tidak terbuang sia-sia.
10. Jaga File Desain Tetap Rapi
File desain yang berantakan (misalnya resolusi rendah atau warna salah mode) bisa membuat hasil cetak jelek. Akibatnya, Anda mungkin harus mencetak ulang. Pastikan file sudah dalam resolusi minimal 300 dpi dan format warna CMYK sebelum dikirim ke percetakan.
Adobe (2023) menegaskan bahwa kesalahan teknis kecil seperti ini sering kali jadi penyebab utama pemborosan biaya cetak. Jadi, periksa baik-baik file desain Anda sebelum produksi.
Studi Kasus: UMKM yang Berhasil Menghemat Biaya Cetak
Salah satu contoh nyata datang dari sebuah UMKM kuliner di Jakarta yang awalnya mencetak brosur dengan ukuran A4 full color. Setelah berkonsultasi dengan percetakan, mereka mengganti ukuran menjadi A5 dan menggunakan kertas art paper 150 gsm.
Hasilnya, biaya cetak turun hingga 35% tanpa mengurangi kualitas promosi. Bahkan, brosur yang lebih kecil lebih mudah dibagikan ke pelanggan.
Menghemat biaya cetak bukan berarti menurunkan kualitas. Kuncinya adalah pintar memilih ukuran, desain, bahan, dan metode cetak. Selain itu, bekerja sama dengan percetakan yang tepat akan membantu Anda mendapatkan hasil maksimal dengan harga lebih terjangkau.
Intership SMKN 1 Bungo | Putri Ardiana Safara
