Tradisi ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk penghormatan dan doa kepada orang yang telah meninggal dunia. Selain itu, tindakan ini juga menjadi amal jariyah, karena manfaat dari buku tersebut terus mengalir selama digunakan orang lain untuk berzikir dan membaca doa.
1. Pemberian Buku Yasin: Wujud Doa dan Cinta yang Abadi
Buku Yasin sering kali berisi Surat Yasin, doa tahlil, serta bacaan dzikir yang digunakan dalam berbagai acara keagamaan. Menurut pandangan banyak ulama, membaca Surat Yasin memiliki keutamaan yang besar, terutama ketika dibacakan untuk orang yang telah meninggal dunia.
Rasulullah SAW bersabda:
"Bacalah Surat Yasin untuk orang yang meninggal di antara kalian." (HR. Abu Dawud, no. 3121)
Hadis ini menjadi dasar kuat mengapa banyak umat Islam membacakan Surat Yasin untuk arwah keluarga mereka. Maka, pemberian Buku Yasin dalam takziah sejatinya merupakan upaya mengajak orang lain untuk turut berdoa, sehingga pahala bacaan tersebut juga mengalir kepada almarhum (Sumber: NU Online, 2023).
2. Buku Yasin Sebagai Amal Jariyah yang Tak Terputus
Menurut ajaran Islam, amal jariyah adalah amalan yang pahalanya tidak terputus walaupun pelakunya telah meninggal dunia. Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan:
"Apabila seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim, no. 1631)
Buku Yasin termasuk dalam kategori ilmu yang bermanfaat, karena isinya adalah kumpulan doa dan bacaan Al-Qur’an yang digunakan untuk beribadah. Jika seseorang membagikan Buku Yasin dan orang lain membacanya, maka pahala bacaan tersebut mengalir juga kepada pemberinya.
Itulah sebabnya, banyak keluarga memilih mencetak Buku Yasin dengan nama almarhum di sampulnya. Tujuannya bukan sekadar mengenang, melainkan juga agar setiap kali buku itu dibaca, doa kebaikan terus mengalir kepada yang telah tiada (Sumber: Islam.nu.or.id, 2022).
3. Simbol Pengingat dan Pengikat Silaturahmi
Selain makna spiritual, pemberian Buku Yasin juga memiliki nilai sosial yang kuat. Dalam momen duka, keluarga yang berduka menerima banyak dukungan dari kerabat dan tetangga. Dengan membagikan Buku Yasin, mereka tidak hanya berterima kasih, tetapi juga mempererat tali silaturahmi.
Buku tersebut menjadi pengingat bagi penerimanya tentang pentingnya doa dan ukhuwah (persaudaraan). Ketika seseorang melihat kembali Buku Yasin yang diterimanya dari takziah, sering kali ia akan teringat untuk kembali mendoakan almarhum. Dengan demikian, hubungan antara yang hidup dan yang telah tiada tetap terjalin melalui doa.
4. Pemberian Buku Yasin Sebagai Bentuk Sedekah
Dalam Islam, sedekah tidak harus selalu berupa uang atau makanan. Menyebarkan Buku Yasin juga merupakan bentuk sedekah yang bernilai tinggi, karena mengandung unsur dakwah dan ilmu agama.
Seperti disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 261:
"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai ada seratus biji."
Ayat ini menggambarkan bahwa sedekah yang bermanfaat akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Maka, memberikan Buku Yasin kepada orang lain berarti menanamkan ilmu dan doa yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Selain itu, banyak percetakan kini menyediakan opsi custom design untuk Buku Yasin, lengkap dengan nama almarhum, tanggal wafat, serta ucapan terima kasih. Ini menambah nilai emosional sekaligus spiritual dari buku tersebut, karena setiap kali dibuka, penerima akan mendoakan almarhum dengan tulus (Sumber: Republika.co.id, 2024).
5. Fungsi Edukatif: Mengajarkan Nilai Doa dan Kesabaran
Bagi generasi muda, pemberian Buku Yasin juga memiliki fungsi edukatif. Anak-anak atau remaja yang menerima buku ini akan terbiasa melihat dan membaca doa-doa pendek, surat Yasin, serta dzikir. Hal ini menanamkan nilai-nilai kesabaran, keikhlasan, dan keimanan sejak dini.
Dengan kata lain, Buku Yasin bukan hanya benda simbolik, tetapi juga alat pembelajaran spiritual. Ia mengajarkan bahwa kematian bukan akhir dari segalanya, melainkan pintu menuju kehidupan abadi yang penuh pertanggungjawaban.
Maka, membagikan Buku Yasin dalam acara takziah juga menjadi bentuk dakwah lembut, mengingatkan setiap penerima tentang pentingnya memperbanyak amal dan doa selama hidup.
6. Menjaga Tradisi dengan Sentuhan Modern
Seiring perkembangan zaman, tradisi pemberian Buku Yasin kini berkembang dengan desain yang lebih elegan dan personal. Banyak keluarga memilih Buku Yasin eksklusif dengan bahan premium, sampul kulit, hingga tambahan doa khusus sesuai tradisi daerah.
Namun, di balik kemasan modernnya, makna spiritual tetap sama — yaitu mengajak umat Islam untuk terus berzikir dan berdoa. Tradisi ini menunjukkan bagaimana budaya Islam mampu beradaptasi tanpa kehilangan nilai luhur (Sumber: Kemenag.go.id, 2023).
Selain versi cetak, kini juga banyak tersedia Buku Yasin digital atau e-Yasin yang bisa diunduh. Meski bentuknya berbeda, tujuannya tetap satu: menyebarkan bacaan dan doa agar semakin banyak yang ikut mendoakan.
7. Mengapa Pemberian Buku Yasin Tetap Relevan Hingga Kini
Dalam kehidupan modern yang serba cepat, banyak kebiasaan lama mulai ditinggalkan. Namun, pemberian Buku Yasin dalam takziah tetap bertahan karena memiliki makna yang tidak lekang oleh waktu.
Tradisi ini mengajarkan bahwa dalam setiap kehilangan, ada nilai kesyukuran, doa, dan kebersamaan. Ia juga menjadi bentuk nyata dari penghormatan terakhir kepada orang yang telah meninggal.
Selain itu, kebiasaan ini juga memperkuat budaya gotong royong di masyarakat. Setiap keluarga, tetangga, dan kerabat ikut berpartisipasi dalam acara doa bersama, menciptakan ikatan sosial yang kuat di tengah suasana duka.
Buku Yasin, Warisan Spiritual yang Hidup Selamanya
Pemberian Buku Yasin dalam takziah bukan hanya sekadar simbol belasungkawa, tetapi juga bentuk kasih sayang, doa, dan amal jariyah yang terus hidup. Melalui buku ini, doa untuk almarhum tidak berhenti di hari kematian, tetapi terus mengalir selama buku tersebut dibaca dan digunakan.
Intership SMKN 1 Bungo | Putri Ardiana Safara
