Awal Mula Percetakan di Dunia
Sejarah percetakan dimulai dari Tiongkok pada abad ke-9 dengan teknik woodblock printing atau cetak balok kayu. Tulisan atau gambar diukir di atas kayu, kemudian diolesi tinta dan ditekan ke atas kertas. Cara ini memang memakan waktu, namun menjadi tonggak awal berkembangnya percetakan (sumber: Britannica, 2024).
Puncak revolusi percetakan terjadi pada abad ke-15 ketika Johannes Gutenberg menemukan mesin cetak dengan huruf timah yang bisa dipindah-pindahkan (movable type). Penemuan ini membuat proses cetak menjadi lebih cepat, efisien, dan murah. Salah satu cetakan pertama yang terkenal adalah Alkitab Gutenberg yang terbit pada tahun 1455. Penemuan ini tidak hanya mengubah dunia percetakan, tetapi juga mempercepat penyebaran ilmu pengetahuan di Eropa (sumber: History.com, 2024).
Perkembangan Percetakan di Indonesia
Di Indonesia, percetakan mulai dikenal sejak masa kolonial Belanda. Menurut catatan sejarah, percetakan pertama berdiri di Batavia (sekarang Jakarta) pada tahun 1624 yang didirikan oleh VOC untuk mencetak dokumen pemerintahan serta kitab keagamaan (sumber: Perpustakaan Nasional RI).
Seiring berkembangnya waktu, percetakan di Indonesia menjadi sarana penting dalam penyebaran buku, surat kabar, dan majalah. Pada abad ke-20, percetakan mulai masuk ke ranah komersial untuk melayani kebutuhan masyarakat luas seperti brosur, pamflet, undangan, hingga produk-produk kemasan.
Era Offset Printing
Setelah masa percetakan manual, industri percetakan mengalami perkembangan pesat dengan munculnya offset printing. Teknik ini mulai populer pada abad ke-20 karena mampu menghasilkan cetakan berkualitas tinggi dengan jumlah banyak dalam waktu yang relatif cepat.
Offset printing menggunakan pelat logam untuk memindahkan tinta ke kertas. Keunggulannya adalah hasil cetakan tajam, presisi, dan hemat biaya jika digunakan untuk produksi massal. Oleh karena itu, teknik ini sangat cocok untuk mencetak buku, majalah, koran, brosur, dan kebutuhan promosi perusahaan (sumber: Printing United Alliance, 2023).
Hingga saat ini, offset printing masih banyak digunakan, terutama untuk kebutuhan cetak dalam jumlah besar.
Revolusi Digital Printing
Memasuki abad ke-21, muncul inovasi baru yaitu digital printing. Teknologi ini memungkinkan proses cetak langsung dari file komputer tanpa perlu membuat pelat cetak. Digital printing membuat percetakan menjadi lebih fleksibel, cepat, dan cocok untuk cetak dalam jumlah sedikit (print on demand).
Keunggulan digital printing antara lain:
-
Cepat – file digital bisa langsung dicetak tanpa persiapan rumit.
-
Fleksibel – cocok untuk cetakan custom, misalnya undangan personal, kartu nama, hingga merchandise.
-
Ekonomis – tidak ada biaya pembuatan pelat, sehingga lebih hemat untuk cetakan skala kecil.
Menurut laporan Smithers Pira, pasar digital printing terus tumbuh pesat dengan nilai miliaran dolar setiap tahunnya, terutama didorong oleh kebutuhan personalisasi produk (sumber: Smithers, 2023).
Percetakan di Era Modern
Sekarang, bisnis percetakan tidak hanya berfokus pada media cetak tradisional seperti buku atau brosur, tetapi juga merambah ke berbagai bidang kreatif. Beberapa inovasi modern dalam dunia percetakan antara lain:
-
Large Format Printing: untuk spanduk, banner, billboard, dan backdrop event.
-
UV Printing: memungkinkan mencetak di berbagai media seperti kayu, kaca, akrilik, hingga logam.
-
Packaging Printing: semakin berkembang karena meningkatnya kebutuhan kemasan unik untuk branding bisnis.
-
3D Printing: meski berbeda dari percetakan konvensional, teknologi ini membuka peluang baru untuk mencetak objek nyata tiga dimensi.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa percetakan terus beradaptasi dengan perubahan zaman dan kebutuhan pasar.
Tantangan dan Peluang Bisnis Percetakan
Meski teknologi digital semakin maju, percetakan tetap memiliki tempat penting dalam dunia bisnis. Namun, industri ini juga menghadapi beberapa tantangan, seperti:
-
Persaingan ketat – banyaknya penyedia jasa percetakan membuat bisnis harus lebih kreatif.
-
Perubahan gaya hidup digital – banyak orang beralih ke media online dibanding media cetak.
-
Tuntutan ramah lingkungan – penggunaan kertas dan tinta kini dipantau agar tidak merusak lingkungan.
Di sisi lain, peluang besar juga terbuka:
-
Custom printing untuk kebutuhan personal seperti undangan, merchandise, atau hadiah.
-
Packaging premium yang mendukung branding produk UMKM dan perusahaan besar.
-
Printing on demand yang sesuai dengan tren efisiensi biaya.
Perjalanan bisnis percetakan dari zaman dulu hingga sekarang adalah bukti bagaimana teknologi dan kebutuhan manusia berjalan beriringan. Dari cetak kayu di Tiongkok, penemuan mesin cetak Gutenberg, masuknya percetakan ke Indonesia, era offset printing, hingga revolusi digital printing — semuanya memberikan dampak besar bagi dunia komunikasi dan bisnis.
Intership SMKN 1 Bungo | Putri Ardiana Safara
