Gubuku- Kesalahan Memilih Font pada Desain Cetak
Membuat desain untuk dicetak—seperti brosur, poster, banner, atau kartu nama—memang terlihat menyenangkan. Kita bisa bebas memilih warna, gambar, dan tentu saja jenis huruf atau font. Namun, sering kali pemula terjebak pada satu masalah sepele yang berakibat fatal: salah memilih font.
Desain yang di layar komputer terlihat bagus, begitu dicetak malah jadi buram, sulit dibaca, atau terlihat berantakan. Agar hal itu tidak terjadi pada Anda, mari kita bahas apa saja kesalahan umum dalam memilih font untuk desain cetak dan bagaimana cara menghindarinya.
1. Terlalu Banyak Menggunakan Jenis Font
Keinginan untuk membuat desain yang “ramai” dan menarik sering membuat orang menggunakan tiga, empat, atau bahkan lima jenis font sekaligus dalam satu poster.
-
Kenapa ini salah: Terlalu banyak font membuat mata pembaca lelah dan bingung harus melihat ke mana dulu. Desain jadi terlihat tidak profesional dan norak.
-
Solusinya: Batasi maksimal dua atau tiga font dalam satu desain. Gunakan satu font yang tebal dan tegas untuk judul (headline), dan satu font yang bersih serta mudah dibaca untuk isi teks (body text).
2. Mengabaikan Perbedaan Format Layar (RGB) dan Cetak (CMYK)
Ini adalah kesalahan teknis yang sering luput dari perhatian. Font yang terlihat sangat tipis dan elegan di layar monitor dengan mode RGB, belum tentu aman saat dicetak menggunakan mesin cetak berbasis CMYK.
-
Kenapa ini salah: Teks dengan ukuran sangat kecil dan menggunakan font tipis (hairline atau light) bisa pecah atau “tenggelam” saat tinta mesin cetak menyentuh kertas.
-
Solusinya: Pilih ketebalan font yang cukup aman (minimal ketebalan regular atau medium). Hindari menggunakan font yang terlalu tipis untuk teks berukuran kecil di atas kertas.
3. Memilih Font yang Terlalu Dekoratif untuk Teks Panjang
Font sambung (script) yang meliuk-liuk atau font bertema horor/futuristik memang sangat menarik perhatian. Namun, penggunaannya harus tahu tempat.
-
Kenapa ini salah: Font dekoratif sangat sulit dibaca jika dipakai untuk kalimat yang panjang atau paragraf. Pembaca akan malas membaca tulisan Anda karena mata mereka harus bekerja keras mengeja hurufnya.
-
Solusinya: Gunakan font dekoratif hanya untuk judul utama atau kata penekanan yang singkat (satu atau dua kata). Untuk isi teks, selalu gunakan font standar yang bersih dan netral seperti sans-serif (contoh: Arial, Helvetica, Open Sans) atau serif (contoh: Times New Roman, Garamond).
4. Ukuran Font Terlalu Kecil
Di layar laptop yang di-zoom hingga 200%, teks ukuran 8 pt terlihat sangat jelas. Masalahnya, kertas cetak tidak bisa di-zoom secara manual oleh pembaca di dunia nyata.
-
Kenapa ini salah: Begitu dicetak, teks berukuran terlalu kecil akan menyatu dan tidak terbaca, terutama jika dicetak pada media kecil seperti kartu nama atau kemasan produk.
-
Solusinya: Perhatikan standar ukuran minimum untuk cetak. Untuk brosur atau poster, usahakan ukuran teks utama tidak kurang dari 10-12 pt, dan untuk kartu nama minimal 8 pt, tergantung jenis font yang dipakai.
5. Kontras Warna Teks dan Background yang Buruk
Pemilihan font sudah bagus, ukurannya pas, tapi warnanya menyatu dengan latar belakang (background).
-
Kenapa ini salah: Tulisan menjadi tidak terbaca dari jarak jauh. Misalnya, menggunakan font abu-abu terang di atas latar belakang putih, atau font hitam di atas latar belakang biru tua.
-
Solusinya: Selalu terapkan prinsip kontras tinggi. Gunakan teks gelap di atas latar belakang terang, atau teks terang di atas latar belakang gelap. Lakukan uji cetak (print preview atau cetak uji coba di printer biasa) sebelum mencetak dalam jumlah banyak.
Memilih font untuk desain cetak pada dasarnya bukan tentang mencari yang paling unik atau paling estetik, melainkan tentang kemudahan membaca (readability). Dengan menghindari kesalahan-kesalahan di atas, desain cetak Anda tidak hanya akan terlihat lebih rapi dan profesional, tetapi juga berhasil menyampaikan pesan kepada orang yang melihatnya.
Penulis : Herson SMK N 1 BUNGO


Leave a Reply